Sabtu, 24 Desember 2011

“ dibaharui di dalam roh dan pikiran (Ef. 4:23) ”



Tanggal 14 Maret 1966, jadi sejarah yang unik bagi John Lennon dari The Beatles dalam sebuah wawancara dengan The Evening Standard mengatakan : ‘Kekristenan akan pergi, lenyap dan menyurut. Kami lebih popular dari Yesus sekarang : aku nggak tahu mana yang akan lenyap duluan, rock’n roll atau kekristenan. Yesus itu luar biasa, tapi murid-muridnya yang biasa-biasa. Mereka yang menjungkirbalikkan dan merusaknya untukku”.

Kata The Beatles lebih popular dari Yesus, tentu saja menyulut kemarahan orang kristen di berbagai negara, meraka membakar album, piringan hitam dan rekaman The Beatles, memboikot pertunjukkan stasiun radio dilarang memutar lagunya, dilarang masuk ke negara mereka, bahkan ada yang ingin membunuhnya.

Seandainya hal tersebut terjadi saat ini, kitapun akan bereaksi serupa. Eh …. tunggu dulu, bukankah ketika menunjuk seseorang, jari lain menunjuk diri sendiri. John Lennon tidak sepenuhnya salah, kitapun tidak sepenuhnya benar. Kita harus introspeksi, bisa jadi ada yang keliru dengan pola hidup kita sebagai orang kristen. Ibarat seorang belajar silat pada guru termasyur, masih dalam tahap belajar tapi sudah turun gunung dan terjun di masyarakat. Merasa menyandang predikat sebagai seorang murid dan guru tersohor, ia tergoda untuk menunjukkan kelebihannya, memuji diri dan mencintai diri sendiri secara berlebihan. Maksudnya mau memuliakan nama sang guru, perilakuknya justru membuat aib, membuat orang salah mengerti dan sinis karena kenarsisannya. Kenarsisan juga bisa melanda lembaga atau instansi, saat ini ada banyak denominasi dan aliran gereja yang berjalan sendiri-sendiri dengan menonjolkan ciri dan style masing-masing. Hal itu tidak masalah selama mereka tidak terjabak narsisme, malahan justru bisa memperkaya khazanah kekristenan, karena pada hakekatnya, kita ini adalah anggota tubuh dengan Kristus sebagai kepala (I Kor 12:12-27) dan bukan berasal dari berbagai golongan (I Kor 3:4). Kalimat bagian akhir dari ucapan John Lennon mengingatkan kita akan perkataan serupa yang dilontarkan oleh Mahatma Gandhi (1869-1948) dan mengatakan: “Saya mencintai Kristusmu, saya tidak suka dengan Kristenmu. Kristenmu begitu berbeda dengan Kristusmu”.

Kita patut bersyukur selalu, ada orang dan peristiwa dipakai Yesus untuk mengingatkan kita untuk hidup benar sebagai orang kristen.

Kita memang memikul salib, tapi itu bisa digunakan untuk menyalibkan Yesus kembali, kalau hidup kita dengan kenarsisan.


Firman Tuhan mangajak kita untuk memberi diri agar :dibaharui di dalam roh dan pikiran : (Ef. 4:23).
Mari kita senantiasa berubah, memperbaharui dan meremajakan diri. Kalau tidak, kita akan mengeras.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar